Melihat Kehidupan Mahasiswi USU yang Viral karena Permintaan Maaf Dosen

author photo Januari 29, 2021
Melihat Kehidupan Mahasiswi USU yang Viral karena Permintaan Maaf Dosen
Nurul Hasanah saat ditemui di rumahnya Jalan Kebun Sayur, Kecamatan Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Foto: kumparan

Nama Nurul Hasanah (19), mendadak viral di jagat maya. Penyebabnya berawal dari unggahan status Facebook seorang dosen Fisip Universitas Sumatera Utara (USU) Syafruddin Pohan berjudul “Maafkan Bapak, Nak”.


Pohan dalam unggahannya itu mengisahkan bagaimana perjuangan Nurul mempertahankan kuliah semester akhirnya meski hidupnya susah dan keras lantaran kedua orang tuanya, telah meninggal dunia. Nurul merupakan anak yatim piatu.


Ditemui kumparan di kediamannya di Jalan Sayur, Kecamatan Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat (29/1) sore, Nurul tampak sumringah.


Awalnya, Nurul menolak untuk didatangi dan diwawancarai karena dia merasa tidak layak. Menurutnya, banyak orang lain yang lebih bisa menginspirasi.


Namun, akhirnya Nurul bersedia. Dengan senyum semringah, Nurul membolehkan kumparan sowan ke kediamannya dan melihat berbagai aktivitasnya sebagai guru ngaji di rumahnya.


“Maaf ya, bang. Sebetulnya saya tidak mau viral, masih banyak orang yang lebih layak,” ujar Nurul kepada kumparan.


Nurul kini tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Dia di sana tinggal sendiri. Nurul merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sudah berumah tangga dan tinggal tak jauh dari rumah yang dia tempati itu.


Namun, untuk urusan kuliah, Nurul tak mau membebani kedua kakaknya itu. Untuk itu, dia memilih cari uang sendiri untuk membiayai kuliah dan ongkos menempuh sarjana.


Nurul mengajar anak-anak belajar Al Quran di Rumah Al Quran di Jalan Darussalam Kota Medan dan private di rumahnya. Demi menghemat biaya hidupnya, dia pergi mengajar Al quran dengan menggunakan sepeda.


Ayah Nurul meninggal terkena serangan jantung sejak dia duduk di kelas 4 SD. Lalu ibunya meninggal saat dia duduk di bangku SMA. Dia mengatakan kuliahnya berjalan lancar hanya sampai semester 5 saja. Meski mendapat beasiswa, uang tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup. Selanjutnya demi mencukupi kebutuhannya, dia cuti kuliah hingga setahun.


“Masa itu, saya beranggapan tidak bisa lanjut kuliah, lagi, saya pun. Jadi kerja setahun,” ujar Nurul.


Sebenarnya, dia bisa saja mengandalkan bantuan dari kakak dan pamannya. Namun dia merasa tidak enak hati merepotkan. Sebab kondisi ekonomi saudaranya juga sedang sulit sulitnya.


“Saya tidak enak hati merepotkan mereka terus,” ujarnya.


Waktu cuti , dimanfaatkan Nurul dengan bekerja di salah toko baju milik teman satu kuliahnya. Niatnya melanjutkan kuliah muncul saat dia, menemani temanya ke kampus untuk mengurus skripsi.


Di saat itulah dia bertemu dengan kepala Jurusan Ilmu Komunikasi, Dewi Kurniawati. Mengetahui kondisi Nurul, Dewi menasihatinya supaya menyelesaikan kuliahnya.


Nurul merupakan angkatan 2013. Harusnya dia bisa lulus tahun 2017. Namun karena mengambil cuti, dia baru memulai kuliah kembali, pada tahun 2018. [kumparan.com]

Next article Next Post
Previous article Previous Post